Learning and Unlearning Language

2 Agustus 2017 at 6 PM - 8 PM 📍 KUNCI Cultural Studies Center
Jln Ngadinegaran MJ III/100, Yogyakarta 55141

The discussion will be held in English.
Apmere angkentye-kenhe adalah sebuah proyek seni berkolaborasi dengan penduduk asli Arrennte. Proyek ini memiliki kegiatan publik yang intens pada Juni dan July 2017 di sebuah barak berwarna kuning di Mparntwe Alice Springs, Australia. Proyek ini beroperasi dengan dua cara. Pertama, sebagaimana yang dimaknai oleh pemelihara bahasa Arrernte senior, kegiatan ini ditujukan untuk menciptakan ruang perpindahan bahasa di dalam keluarga-keluarga dan komunitas komunitas. Kedua, proyek ini ditujukan untuk menyelidiki potensi bahasa Arrernte dan pemeliharaannya dalam proses dekolonial secara lokal. Tujuan-tujuan ini dijalankan dengan menciptakan sebuah rangkaian kegiatan yang terkait dengan bahasa Arrernte, pemutaran film, pameran, sound works dan sumber daya bahasa dan merubah tempat fisik menjadi semacam ruang pedagogis eksperimental.
.
Simak percakapan antara Beth Sometimes, seniman yang berbasis di Alice Springs dengan Hannah Ekin dan Jorgen Doyle, berbasis di Jogja yang juga menjadi sukarelawan di proyek Apmere angkentye-kenhe. Diskusi mengenai proyek ini akan melihat strategi, metode-metode, serta resiko di seputar praktik yang terlibat dengan isu-isu sosial dalam konteks kolonial.

Diskusi ini akan ditanggapi oleh Khoiril Maqin. Maqin adalah salah satu peserta Sekolah Salah Didik Kunci. Pada eksperimen pertama, para peserta Sekolah Salah Didik (SSD) menggagas sebuah eksperimen belajar bersama yang dibingkai dibawah hubungan tanpa guru dan murid dengan menggunakan bahasa isyarat sebagai alat belajar. Tanggapan Maqin akan menelusuri persimpangan dan celah-celah dari pengalaman SSD dengan proyek Beth dalam mengelola sekolah dan bereksperimen dengan metode belajar.

edit

Tidak ada komentar: