A post shared by JARING ACARA (@jaringacara) on


Geguritan (berasal dari bahasa Jawa Tengahan, kata dasar: gurit, berarti "tatahan", "coretan") merupakan bentuk puisi yang berkembang di kalangan penutur bahasa Jawa dan Bali.


Geguritan berkembang dari tembang, sehingga dikenal beberapa bentuk geguritan yang berbeda. Dalam bentuk yang awal, geguritan berwujud nyanyian yang memiliki sanjak tertentu. Di Bali berkembang bentuk geguritan semacam ini. Pengertian geguritan di Jawa telah berkembang menjadi sinonim dengan puisi bebas, yaitu puisi yang tidak mengikatkan diri pada aturan metrum, sajak, serta lagu.



Geguritan atau dalam hal ini puisi Jawa modern mulai muncul pada tahun 1929 di majalah Kejawen dengan terbitnya tiga buah judul geguritan. Pada tahun 1930-1940 terbit tujuh buah karya lainnya. Puisi Jawa modern sempat terhenti pada awal zaman pendudukan Jepang dan baru muncul kembali sesudah revolusi. Puisi Jawa modern ini dipelopori oleh R. Intoyo dan Subagiyo Ilham Notodijoyo [WIKIPEDIA]
.
***
Gambar dipun pundhut wonten ing adicara Temu Karya Kongres Bahasa Jawa dinten 26 dumugi 29 candra sedasa, warsa kalih ewu pitulas. Mapan wonten ing tlatah Gejayan Ngayogyakarta Hadiningrat.



Wetawis cacah setunggal atus piyantun ndherek wonten ing adicara Kongres Basa Jawa ingkang kalaksanan kanthi ira-irahan "Tepung Sastra, Srawung - Dunung ing Ngaurip" punika.



edit

Tidak ada komentar: